Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Selasa, 28 Desember 2010

Pesona Curug Citambur-indonesia

Indotoplist.com : CURUG Citambur, sebuah air terjun yang ketinggiannya kira-kira 100 meter di Desa Karang Jaya, Kec. Pagelaran, Cianjur Selatan. Airnya sangat dingin dan tak ada yang berani bermandi di air jatuhannya. Dipastikan badan akan terasa sakit sekali bila tertimpa air jatuhan karena volumenya cukup besar, jauh lebih besar dan tinggi dari Curug Cimahi di daerah Cisarua, Kab. Bandung.
Pesona Curug Citambur
Air terjun yang lokasinya selatan Ciwidey, Kab. Bandung, yang jaraknya kira-kira 40 km itu, berpanorama indah. Sekitar curug selalu diliputi kabut tipis dan suara air jatuhannya begitu keras dan sesekali diselingi suara burung kutilang, seakan memperkaya simfoni suara alam kawasan itu.

Berada di sana serasa di alam yang masih “perawan”, belum banyak disentuh tangan manusia. Objek wisata itu masih eksotis. Ada dua versi, kenapa curug itu bernama Citambur. Dargana, Ketua Badan Pertimbangan Desa (BPD) Desa Karang Jaya menjelaskan, kata orang tua dulu, setiap air terjun yang jatuh ke kolam berbunyi “bergedebum” seperti tambur.

Saat itu, mungkin volume air terjun jauh lebih besar dari sekarang dan kolamnya cukup luas sehingga menimbulkan bunyi seperti alat musik tabuh yang dipukul setiap air menimpa kolam. Seiring menyusutnya volume air, bunyi itu tak terdengar lagi.

Versi lain, curug tersebut dulu termasuk wilayah Kerajaan Tanjung Anginan, yang rajanya bergelar Prabu Tanjung Anginan. Pusat kerajaannya berada di Pasirkuda, yang kini termasuk Desa Simpang dan Karang Jaya, Kec. Pagelaran. Dugaan pusat kekuasaan di sana karena ada batu yang berbentuk kursi yang diyakini warga sebagai tempat duduk raja. Sementara itu, nama Pasirkuda karena ada sebuah batu di bukit (pasir dalam bahasa Sunda) yang berbentuk kuda.


Pada saat kerajaan berdiri, setiap raja mau mandi ke curug selalu ditengarai dengan suara tambur, yang ditabuh para pengawal. Suara berdebumnya alat musik tabuh itu terdengar cukup jauh sehingga warga Pasirkuda menyebutnya Curug Citambur.

Pesona Curug Citambur
Namun, baik Dargana maupun Kepala Desa Karang Jaya, Kec. Pagelarang, Kab. Cianjur, Dudih Rachmansyah tidak mengetahui, abad ke berapa Kerajaan Tanjung Anginan berdiri. Dalam buku-buku sejarah yang ada pun tak dikenal kerajaan tersebut. Mungkin, Kerajaan Tanjung Anginan sebuah legenda. Hanya yang pasti, kata Dedih, di Curug Citambur sesekali ada yang bertapa. Mereka sepertinya menganggap di curug itu ada kekuatan supranatural.

MESKI Curug Citambur yang memesona belum diberdayakan secara optimal, terlebih bisa ikut membantu menyejahterakan warga sekitar, tetapi penduduk di sana berkeyakinan satu saat air terjun tersebut bisa membebaskan warga dari lilitan kemiskinan.

Yayan Rohyana, tokoh masyarakat Karang Jaya mengungkapkan, menurut orang tua, paling tidak ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, antara lain, jika ada pihak luar yang mau menata.

Pendapat itu bisa dipahami, terlebih jika menelusuri wilayah selatan, mulai dari Ciwalini, Kab. Bandung-Pagelaran-Sindangbarang-Cidaun-Narigul, Kab. Cianjur-Ciwalini (jalur melingkar) banyak objek wisata yang potensial yang belum diberdayakan. Sejak dari Rancawalini, di kanan kiri jalan dipenuhi kebun teh bagaikan hamparan permadani hijau dan udara yang sejuk. Air “cur-cor”. Sehingga jika melewati jalur tersebut, mata seakan dimanja dan badan menjadi segar. Suasana seperti itu hingga ke Desa Cipelah, Kec. Rancabali, Kab. Bandung karena wilayah tersebut merupakan daerah perkebunan PTPN VIII.

Selepas Cipelah, alam terlihat gersang. Akan tetapi berbatasan dengan Desa Ranca Karya, Kec. Pagelaran, Kab. Cianjur walau bukan areal perkebunan, namun pesawahan menghampar.

Di sebelah kanan jalan dari arah Bandung terlihat tiga curug lumayan besar, yang warga di sana menyebutnya Curug Cisabuk. Air yang mengairi pesawahan di daerah itu, juga berasal dari curug tersebut.
Pesona Curug Citambur
Hanya sayangnya, ketiga curug tersebut agak sulit dijangkau, lokasinya agak jauh dari jalan besar, baru ada jalan setapak dan menanjak. Akan tetapi, kata Achmad, warga Cipelah, di sekitar ketiga curug terdapat gua yang cukup besar. Penghuninya kelelawar. Kira-kira 6 km ke selatan terlihat lagi dua curug yang salah satunya Curug Citambur.

Kedua curug tersebut selain sebagai objek wisata, juga sebagai sumber air minum warga, pengairan areal pesawahan dan kolam. Dan, di sejumlah lokasi areal pesawahan di sana menggunakan sistem terasering (bertingkat) yang latar belakangnya sebuah bukit yang hijau. Jika dilihat dari jalan raya, terlihat sebuah pemandangan yang menarik. Areal pesawahan tersebut sangat memungkinkan bila dijadikan agrowisata pesawahan yang sekarang tengah “ngetrend”. Udaranya tidak terlampau panas dan airnya cukup memadai sehingga para wisatawan akan betah bila diajak tandur, memandikan kerbau, dan memanen.

Indahnya kelima curug tersebut terlihat dari jalur Naringgul-Ciwalini, yang lokasinya di seberang timur yang jaraknya cukup jauh terhalang perkebunan teh. Kelima curug itu terlihat seperti lima garis yang mengilat, terlebih jika tersorot sinar matahari, tampak seperti pelangi, yang terbayang di bawah curug sejumlah bidadari tengah mandi.

Sehingga melakukan perjalanan dengan motor, melintasi Ciwidey-Rancawalini-Sindangbarang-Cidaun-Naringgul-Ciwalini sangat mengasyikkan sekalipun jarak tempuhnya cukup jauh. Di jalur Cidaun-Ciwalini sebenarnya ada sebuah curug, yang lokasinya di pinggir jalan. Hanya sayangnya, airnya sudah kering, konon katanya digunakan untuk pengairan pesawahan. Akan tetapi, situasi itu akan terobati ketika akan memasuki Kota Sindangbarang meski harus memotong hutan.

Di Kampung Jablagan terdapat Curug Cisawer yang lokasinya di pinggir jalan pula, dengan curah air yang tinggi. Keindahan alam yang memesona di wilayah selatan ini, seperti mutiara yang terpendam lumpur, belum diberdayakan. Pangkal penyebabnya, kondisi jalan yang rusak berat. Dengan kondisi seperti itu, para wisatawan menjadi malas ke sana.

Andaikata jalannya mulus, kawasan indah sepanjang jalur selatan itu tentu tak terlalu jauh dinikmati dari Kota Bandung. Apalagi, kawasan wisata yang masih “perawan” itu menyuguhkan keindahan alam nan eksotis. Jalur lingkar selatan Cianjur ini sudah saatnya disentuh agar warga bisa terbebas kemiskinan. Dan mereka tak mudah tertipu menjadi TKW (tenaga kerja wanita) ke negara Timur Tengah. (PikiranRakyat)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar